Entri Populer

Minggu, 05 Desember 2010

cerpen : love sick


Widi Alisa adalah sahabat karibku. Ia memiliki segalanya yang sebagian besar cewek lain inginkan di dunia ini. Cantik, pinter, baik hati lagi. Selain itu, ia juga punya pacar yang tampan dan sudah mapan pula, Muhammad Andrea Nasution.
Are biasa aku memanggilnya, adalah tetanggaku sejak kecil. Are adalah penolong setiaku. Are selalu ada bila  dalam keadaan terjepit. So, Are selalu ada dimanapun aku membutuhkannya.
Oleh karena itulah aku mengenalkan Are kepada Widi. Aku sangat ingin melihat teman-temanku hidup bahagia. Selain itu, Are adalah pilihanku untuk Widi. Penghargaan yang dapat kuberikan kepada Are karena selama ini telah menjadi seorang yang menjagaku dengan sepenuh hati. Mereka adalah pasangan yang cocok.  Putri hidup bersama pangeran, betapa sempurnanya hidup ini bila melihat mereka bahagia.

Tetapi yang kusaksikan saat ini hanyalah sisa-sisa kebahagiaan yang sangat menyanyat hatiku. Permainan cinta yang kejam, telah melemparkan kami para pemainnya ke dalam lubang yang gelap, dan memenangkannya. Hidup sempurna yang ku impikan rusak oleh sebuah kenyataan yang pasti. ”Apa yang telah kulakukan?” ucapku dalam hati.
Are meninggal karena kecelakaan mobil sebulan yang lalu. Ia meninggal dengan membawa beban di pundaknya. Berlari mengejar Widi yang akan meninggalkan negara ini dan mengira bahwa Widi membencinya. Aku bertanya pada diriku, ”Inikah yang kau inginkan? Melihat teman-temanmu yang berharga bersedih? Apa yang bisa kau perbuat untuk mengubahnya?”.


Setahun Are dan Widi jadian, akhirnya gebetanku membuka hatinya. Aku mengajak mereka untuk makan malam di sebuah cafe. ”Are, Wid, aku bawa berita yang hoooot dan up to date banget loh. Guest Guest Guest !” kataku bersemangat.
”Apa ya? Ooh di promosiin jadi penulis bagian darmawisata biar bisa jalan-jalan? Oh.oh atau, dapat motor dari ayahmu? Akhirnya,” canda Widi.
Are menjawab dengan santainya, ”Chucky hmm?”
“Benar sekalii.. hha akhirnya. Sudah lama kunanti. Aduuh senangnya. Sampe sekarang aku masih inget tuh kata-katanya. Cucuok banget,” sambil mengacungkan jempolku.
“Chucky? Tunggu, cowok Malaysia itu? Manager bagian yang satu bagian ma kamu, yang?” Widi menatap Are sambil tersenyum dengan manisnya. Sesuatu yang bergejolak dalam hatiku mengecutkan senyumku. Entah bagaimana, tumbuh luka dalam hati ini begitu mendengar perkataan itu sambil melihat tingkah Widi yang bermanja-manja pada Are. Walaupun aku tau, itu dilakukan Widi karena ia sangat mencintai Are dan ingin lebih dekat padanya.
”..ra?  Kara? Adini Kara Putri?” Widi membangunkanku dalam lamunan.
”Oh, maaf. Perjuangan yang tak kenal lelah membuahkan hasil ya. Tau gak sih, banyaknya rintangan yang harus kuhadapi untuk mengejarnya? Aku sampai membuang segala prestise atau semacamnya. Jarang toh cewek ngejar cowok? Wanita kadang harus bersikap agresif yaa untuk mencapai tujuannya. Chucky benar-benar tipeku. Dewasa, berwibawa, cakep lagi. kereeen.” ceritaku.
“Hmm, kata-katamu sama persis dengan yang Chucky katakan. Dia udah cerita tuh maren lusa.”
”Yahh. Btw, apa aja yang di ceritainnya? Ekspresinya ketika bercerita merona sambil malu-malukah?,” jawabku sambil berkaca-kaca.
”Biasa aja.”
”Yang, kok kasam gitu dong. Kamu kenapa sih?” tanya Widi dengan bingungnya.
“Gak ada, lagi mules aja ngeliat muka seseorang,” jawab Are.
Aku tau yang dimaksudkannya itu adalah aku. Tapi, apa salahku?

Aku sering bertemu Are di jalan ketika akan pulang dari kantor. Betapa gembiranya saat bertemu Are. Are akan selalu baik padaku walau gimanapun prasaan hatinya.
“Kara,” teriaknya.
”Hei, baru pulang?” sapaku.
”Ya. Mau bareng? Naik aja.”
”Kalau tidak merepotkan. Eh, Widi?” tanyaku.
”Dia di jemput adiknya tadi,” sambil tersenyum dia menyalurkan helmnya padaku.
”Gak bareng Chucky?”
”Masih ada kerjaan katanya. Biarin deh.”
”Okeh, lets go.”
Aku tidak tahu kapan rasa itu muncul. Walaupun sikapnya kadang-kadang aneh, tiba-tiba baik, atau marah-marah gak jelas, aku tetap senang. Aku lebih banyak memperhatikan Are akhir-akhir ini. Memperhatikannya dengan lebih seksama. Kadang kala, hatiku terasa lega begitu melihat senyumnya. Melupakan Chucky yang telah berada di depan mata.

Hari ini adalah ultahnya Widi. Kami ditraktir makan di sebuah rumah makan terkenal oleh ortunya Widi bersama teman-teman lainnya.
”Hai apa kabar? Apa kesibukanmu saat ini?” sapa Widi ke para tamu-tamunya satu persatu. Hingga datanglah Are yang langsung memeluk Widi di depan yang lainnya.
”Kar?
”Hmm??” tersadarku dari lamunanku.
”Nape? Kok ngelamun? Mikirin paan?” tanya Widi. Tapi Widi bersama Are tetap melanjutkan menyapa tamu-tamunya.
Aku tak menjawab. Dalam pikiranku saat ini, terlintas kenangan ketika kami bersama-sama tamasya ke gunung. Melihat Are dan Widi begitu mesra, luka yang tadinya hanya berupa goresan, terasa membesar dengan sendirinya. Kenangan itu berputar saat kami jalan-jalan ke puncak sebulan lalu. ketika aku hampir terjatuh, tak ada lagi tangan yang datang menyelamatkan tubuh ini. Luka itu akhirnya membesar lagi. Sehingga tercipta lubang yang dalam di hati ini.
Melihat mereka yang saat ini bahagia di depanku, memperparah luka dihatiku. ”Kara, kenapa? Air matamu. Ada yang melukaimu?” tanya Chucky tiba-tiba khawatir di depanku. ”Ada apa? Ada yang sakit?”
”Ah,” aku menghapus air mataku dengan tangan. Chucky memberikan sapu tangannya padaku. ”Maaf ya. Aku gak kenapa-kenapa kok. Aku mau pulang.”
”Aku antar,” tiba-tiba tangan Are menyambar tanganku.
”Aku saja,” jawab Chucky. ”Kamu bantuin Widi aja disini. Sepertinya masih sibuk,” sambil menoleh ke arah Widi yang sedang berlari dan tersengal-sengal ke arah kami.
Chucky mengantarkanku pulang. Setibanya di kamar, air mata ini tak dapat terbendung lagi. Aku menyadari sesuatu. Perasaan kehilangan seseorang yang berarti dalam hidup. Perasaan tidak tenang yang muncul ketika melihat Are dan Widi tertawa dan berjalan bersama. Kegalauan dalam hati akan tindakanku. Bertanya-tanya, benarkah yang ku lakukan ini?
Aku bangun dengan mata yang sembab. Dan memutuskan cuti berkerja hari ini karena kurang enak badan. Sambil baringan, aku berpikir tentang apa yang sebaiknya kulakukan. Tiba-tiba sesuatu mengejutkanku, ”Kar? Kara? Kamu di dalam?”
Seperti yang sudah kukira, Are datang menjengukku. ”Aku dengar kamu gak masuk kerja. Kamu sakit?” Hal inilah yang dapat memberikan aku tenaga setiap harinya. Sikapnya yang selalu perhatian padaku.
”Masuklah. Duduk saja, aku buatin minuman. Mau apa?”
”Gak usah, kamukan lagi sakit. Kamu istirahat aja di kamar. Aku Cuma pengen jenguk.”
”Aku kuat kok.” Saat akan melangkah, aku sempoyongan. Tiba-tiba tanganku di pegang oleh Are dan ia menggopohku. ”Apa kubilang? Biar kuantarkan kekamarmu.”
“Kamu gak kerja?” tanyaku.
“Udah selesai. Om dinas lagi? Obat udah?”
“Sejak minggu lalu. Pekerjaannya masih belum bisa di tinggal. Udah kok, Uda makan juga” Kepalaku tidak dapat bekerja sama. Pusing berat.
”Tiduran aja, aku uda mau pulang.”
”Tetaplah disini.”
Baru saja akan melangkah, Are kembali duduk disamping ranjangku. Dia bercerita tentang teman sekantornya. Sayup-sayup aku mendengar, dia mengatakan tentang Chucky. Namun mataku terlalu berat untuk tetap bekerja. Aku terlelap hingga keesokan harinya.

Seminggu berlalu. Aku selalu menghindar dari Are, takut bila ia mengetahui isi hatiku. Aku hanya dapat melampiaskannya pada Chucky, semakin mendekatkan diri padanya agar melupakan Are.
Dalam perjalanan menuju rumah Widi, ”..ra, tunggu,” terdengar suara Are memanggil.
”Oh my god.” Aku berlari secepat yang kubisa.
“Boleh aku bertanya sesuatu?” dengan napas yang masih tersengal-sengal ia menghalagiku.
Aku hanya diam saja.
“Hey. jawablah.” Are mengguncang-guncangkan tubuhku. Tasku terjatuh dan mengeluarkan segala isinya. Aku mengumpulkannya dan segera berlari lagi meninggalkan Are.
Setiba dirumah, aku memeriksa tas namun tidak menemukan buku harianku. sedangkan isinya adalah ungkapan hatiku mengenai Are. Apa yang harus ku lakukan?
Ketika bertemu dengan Are di taman rumahnya, aku melihat wajahnya yang  muram.
“Apa yang terjadi?” tanyaku.
Dia mengeluarkan sebuah buku berwarna biru yang sangat kutau adalah buku harianku.
”Mengapa tak pernah kamu katakan? Menderita dengan memendamnya sendirian? Itukah maumu? Berpura-pura bahagia melihat aku bersama Widi?”
”Aku tak punya sesuatu untuk dikatakan. Kembalikan bukuku,” sambil merampasnya dari tangan Are.
”Tidak.” Are mengangkat buku itu lebih tinggi. “Aku ingin tahu, mengapa kamu sembunyikan perasaanmu? Ingin menghilangkan aku dari hatimu? Sadarkah kamu, aku sengaja menjodoh-jodohkan kamu dengan Chucky karena kupikir kamu akan bahagia. Bila tidak, ia tidak akan segampang membuka hatinya. Tahukah kamu, aku telah berjuang untuk bisa menerima Widi di hatiku, hanya agar kamu bahagia ketika mendengarnya. Sehingga hatiku akan lega? Mengertikah? Aku melakukan segalanya demi kamu.Untuk melihat kamu Bahagia.”
Apa ini? Mengapa seperti ini? Hatiku berdebar-debar mendengarkan pernyataan itu.
”Oh, jadi selama ini kamu menghindariku karena ini? Ingin melupakan aku? Pantas saja Chucky bercerita hingga yang aahh... Panas telingaku mendengar ceritanya ketika bermesraan bersamamu.” Aku melihat mata Are berbinar-binar hampir menangis. “Katakan sesuatu.”
Hening sejenak. ”Ya, aku ingin melupakanmu karena aku mencintaimu, Re. Puas? Tapi aku tak kan pernah bisa bersamamu. Aku tak ingin melukai Widi.”
Suatu suara bergema dibelakang kami. Aku melihatnya, berdiri di pintu masuk itu. Widi sambil berlinang air mata, menjatuhkan sebuah kue tart di kakinya. Widi segera berlari keluar saat kami memperhatikannya. Aku pun menyuruh Are untuk mengejarnya.
Di line telpon, ”Bagaimana keadaan Widi?” tanyaku.
”Aku tidak bisa bertemu dengannya. Dia tidak mengizinkan aku masuk ke dalam rumahnya, Ra” jawab Are.
”Dia pasti syok. Dia sangat mencintaimu, Re. Dan aku telah merusak kebahagiaan temanku sendiri.”
”Sadarlah siapa yang paling menderita saat ini. Aku. Ra, aku ingin mengatakan sesuatu sebelum segala sesuatunya terlambat.” Diam sejenak. ”I love you, Kara.”
Aku hanya terdiam tanpa dapat berkata-kata.
”Aku akan menyelesaikan masalahku dengan Widi. Aku harap kamu mau menungguku, Ra. Miss you.” Are menutup teleponnya.
Perasaanku malam itu sangat berbunga-bunga. Karena cintaku bersambut. Senang rasanya hingga aku terlena dan melupakan sesuatu.
Widi adalah seorang yang gampang putus asa. Dia akan menyimpan segala masalahnya sendiri. Dulu dia memang memiliki aku yang selalu mendukung dan menyemangatinya, tapi sekarang aku telah berkhianat. Widi berniat melarikan diri ke Australia dengan dalih melanjutkan study kuliah.
”Re, kejar Widi ke bandara sebelum terlambat. Dia berangkat pukul 10.40 pagi ini.” kataku di telpon kepada Are. Namun ternyata, itu adalah kali terakhirnya aku berbicara dengan Are, bahkan melihat wajahnya di hari terakhirnya itu aku tak sempat. Are meninggal dalam kecelakaan maut menuju bandara. Mobilnya dilindas kereta api, hingga wajahnya sudah tak bisa di kenali. Kata-kata terakhir yang ku ucapkan sangatlah membuatku tertekan, seharusnya ”Hati-hati di jalan” atau sesuatu yang lebih baik. Luka di hatiku telah menyebar dan merusak setengah bagian hatiku karena kehilangan belahannya yang lain. Apakah aku masih harus menunggunya bila seperti ini? Adakah yang dapat menambal keadaan hatiku?
Semakin sakit bagian luka itu ketika mengetahui Widi tak dapat tersenyum lagi. ”Kalau begini, lebih baik aku tidak bersamanya saja daripada tidak bertemu seumur hidupku lagi seperti ini,” Widi berkata sambil menangis meraung-raung. Widi hanya duduk di teras depan rumahnya tempat biasa Are datang menunggunya.

<END>


                         

Tidak ada komentar:

Posting Komentar